LITERATUR
REVIEW :
PERBEDAAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN
UNIT RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM
MANADO
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Literatur Review
Oleh
:
SINDHY
SOARA FEBRYANY
C1AA16093
PROGRAM
STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES
SUKABUMI
SUKABUMI
2017
1.
TOPIK
PERBEDAAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN
UNIT RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM
MANADO
2.
KATA
KUNCI
Tingkat stres kerja, Perawat Instalasi Gawat
Darurat, Perawat Unit Rawat Inap.
3.
SUMBER
YANG DIGUNAKAN
MEDIA ELEKTRONIK : WEBSITE DAN SUMBER JURNAL
4.
ALASAN
PEMILIHAN SUMBER
a. Sumbernya
jelas.
b. Isi
jurnal relevan dengan topik.
c. Merupakan
sumber primer.
d. Sumber
yang dipakai jelas kredibilitasnya.
e. Sesuai
dengan yang dibutuhkan untuk penulisan literature
review.
5.
SUMMARY JURNAL
|
No
|
Topik
|
Peneliti
|
Tahun
|
Metode
|
Populasi
& Sampel
|
Hasil
|
Kesimpulan
|
|
1
|
PERBEDAAN
TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN UNIT RAWAT INAP DI
RUMAH
SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO
|
Pascal
Lumintang ,
Lucky
Kumaat , dan
Mulyadi
|
2015
|
Cross
Sectional
|
Seluruh
perawat di Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap.
Sampel:
Perawat Instalasi Gawat Darurat : 17 perawat, Perawat Unit Rawat Inap: 73
perawat.
|
Hasil penelitian menunjukan
7 (41,2%) perawat Instalasi Gawat Darurat stres tingkat ringan dan 12 (70,6%)
perawat Unit Rawat Inap tidak mengalami stres. Data dianalisis dengan uji Man-Whitney
(α=0,05) dan diapatkan nilai Probabilitas 0,002.
|
Simpulan terdapat perbedaan
tingkat stres kerja perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap Rumah
Sakit Pancaran Kasih GMIM Manado. Rekomendasi
peneliti yaitu untuk mampu mengelolah sistem kerja yang efisien
sehingga mengurangi stresor yang menyebabkan perawat stres.
|
|
2
|
Stres Kerja pada Perawat Instalasi Gawat Darurat di RSUD Pasar
Rebo Tahun 2014
|
Dewi
Yana
|
2015
|
Cross Sectional
|
Populasi
penelitian adalah seluruh perawat pelaksana di IGD RSUD Pasar Rebo yang
berjumlah 24 orang. Sampel diambil dengan metode total sampling (24
orang).
|
Pada
penelitian ditemukan 45,8% perawat mengalami stres yang tinggi. Perbedaan
proporsi terbesar ditemukan pada faktor individu (kepercayaan diri) dan
dukungan (dukungan atasan). Hasil penelitian merekomendasikan perbaikan
deskripsi kerja yang lebih jelas dan akurat serta pelatihan komunikasi
terkait upaya manajemen dalam mengelola stres kerja.
|
Kesimpulan
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Hampir separuh dari
perawat IGD RSUD Pasar Rebo memiliki stres tinggi (45,8%).
2.
Pada faktor kondisi kerja, sebagian besar perawat mempersepsikan konflik
dalam kelompok, konflik peran, kontrol kerja, beban kerja, dan tuntutan
mental sebagai stressor. Sedangkan lingkungan fisik, konflik antar
kelompok tinggi dan ketidakjelasan peran hanya dipersepsikan sebagai stressor
oleh sebagian kecil perawat IGD RSUD Pasar Rebo.
|
|
3
|
The
Relationship between Work-Stress, Psychological Stress and Staff Health and
Work Outcomes in Office Workers
|
Einar B. Thorsteinsson, Rhonda F.Brow, Carlie
Richard
|
2014
|
Questioners
& Informations
|
Semua peserta yang sedang online.
Sampelna peserta yang potensial.
|
Sebuah model yang mencakup
semua asosiasi signifikan diuji dengan menggunakan pendekatan persamaan
struktural. Indeks yang sesuai menunjukkan kecocokan yang baik dan efek
meditaStress
kerja cenderung memberi kontribusi pada perasaan stres yang dirasakan tinggi
pada beberapa orang Pekerja, yang kemudian memberikan kontribusi terhadap
kesehatan yang buruk dan niat turnover yang lebih tinggi.
|
Stress kerja cenderung memberi
kontribusi pada perasaan stres yang dirasakan tinggi pada beberapa orang
Pekerja, yang kemudian memberikan kontribusi terhadap kesehatan yang buruk
dan niat turnover yang lebih tinggi.
|
6. LITERATUR
REVIEW
A.
Tingkat
Stres Kerja
Stres kerja
banyak terjadi pada para pekerja di sektor kesehatan. Tanggung jawab terhadap
manusia pada sektor kesehatan menyebabkan pekerja lebih rentan terhadap stres
(Taylor, 2006)(1.3). Sebuah studi cross sectional terhadap 775 tenaga
profesional di Taiwan tahun 2010 menghasilkan informasi bahwa 64,4% pekerja
mengalami kegelisahan, 33,7% pekerja mengalami mimpi buruk, 44,1 mengalami
gangguan iritabilitas, 40,8% pekerja mengalami sakit kepala, 35% pekerja
insomnia, dan 41,4% pekerja mengalami gangguan gastrointestinal (Tsai & Lu,
2012)(6).
Borril (1998)
dalam Charnley (1999)(7) menyatakan bahwa meskipun seluruh tenaga profesional di
rumah sakit memiliki risiko stres, namun para perawat memiliki tingkat stres
yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat peran perawat di Indonesia
yang ditegaskan pada Pasal 63 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan yang menyebutkan bahwa sesungguhnya penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengendalian, pengobatan, dan/atau
perawatan. Perawat bekerja pada lingkungan di mana ia bertanggung jawab
menentukan kualitas dan keamanan perawatan pasien. Apabila perawat mengalami
stres kerja dan stres tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan
membahayakan pasien (Jennings, 2008)(8.2).
Jika sebagian
besar perawat mengalami stres kerja, maka dapat mengganggu kinerja rumah sakit
karena perawat tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi rumah sakit
dan pada akhirnya akan mempengaruhi daya saing mereka di pasar dan lebih dari
itu bahkan dapat membahayakan kelangsungan organisasi rumah sakit (WHO,
2003)(9). Penelitian terhadap 632 perawat di Arab Saudi menunjukkan hubungan
langsung yang signifikan antara tuntutan pekerjaan dengan kinerja perawat.
Studi ini memperlihatkan stres kerja sebagai variabel antara dalam hubungan
tuntutan pekerjaan dan kinerja para perawat
(Al-Homayan, Shamsudin, Subramaniam, dan Islam, 2013)(3.2).
Penelitian yang
telah dilakukan terhadap 104 perawat dengan kuesioner terhadap 96 perawat
menemukan 45 peristiwa stres terjadi pada perawat. Model yang dikembangkan pada
penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas
subjektif menyebabkan perasaan stres, dan menyebabkan penurunan motivasi dan
kinerja (Motowidlo, Packard, dan Manning, 1986)(10). Adapun studi non
eksperimental di Uganda terhadap 333 perawat yang tersebar di 4 rumah sakit
menunjukkan bahwa tingkat stres kerja di rumah sakit negeri cenderung lebih
tinggi serta tingkat kepuasan kerja dan kinerja cenderung lebih rendah
dibandingkan dengan swasta. Ada hubungan negatif yang signifikan antara stres
kerja dan prestasi kerja (Nabirye, 2013)(11.1).
Stres kerja yang
dialami oleh para perawat diprediksi akan cenderung terus meningkat di
tahun-tahun yang akan datang. Hal tersebut merupakan sebuah tren yang tidak
dapat diabaikan karena sangat erat kaitannya dengan keselamatan para perawat
dan pasien (Berland, Natvig, & Gundersen, 2008; Dugan et al, 1996; Killien,
2004; Shields & Wilkins, 2006 dalam Zeller & Levin, 2013)(12). Selain
ancaman keselamatan pasien, apabila ditinjau dari sisi perawat, munculnya stres
dapat mengakibatkan kejenuhan dan keinginan untuk keluar dari pekerjaan. Jika
stres tidak dikelola dengan baik, angka turn over terus meingkat (Jennings,
2008)(8.3). Berdasarkan sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Barker
(2012)(13), diketahui bahwa stres merupakan penyebab tertinggi kedua sebagai
penyebab munculnya keinginan untuk keluar dari pekerjaan.
Hasil analisis
tingkat stres perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap RS Pancaran
Kasih GMIM Manado. Tingkat stres yang dialami oleh perawat Instalasi Gawat
Darurat dan Unit Rawat Inap berbeda, yaitu perawat Instalasi Gawat Darurat
mengalami stres lebih tinggi daripada perawat Unit Rawat Inap, sebagian besar
perawat Instalasi Gawat Darurat mengalami stres ringan dan perawat Unit Rawat
Inap sebagian besar tidak mengalami stres.
Berdasarkan uji
statistik dengan menngunakan uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% (α
0,05) diperoleh ρ=0,002; α=0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan ada
perbedaan tingkat stres kerja perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat
Inap RS Pancara Kasih GMIM Manado. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nirwana dkk (2013) tentang hubungan stres kerja
dengan gannguan kesehatan perawat IGD RSUD Panembahan Senopati Bantul bahwa
yang mengalami stres ringan sebanyak 30 perawat (80,1%) dan yang mengalami
stres tinggi sebanyak 7 orang (19,9%)faktor penyebab perawat mengalami stres
adalah beban kerja, jumlah tenaga kesehatan, jumlah pasien,dan lingkungan
kerja.
B.
Perawat
Instalasi Gawat Darurat
Salah satu tenaga kesehatan yang
jumlahnya banyak adalah perawat. Sebagai salah satu tenaga kesehatan di rumah
sakit, profesi keperawatan memegang peranan penting di dalam rumah sakit dengan
memberikan layanan kesehatan dalam bentuk asuhan keperawatan secara
bio-sosial-kulturalspiritual secara komperhensif kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses
kehidupan manusia (PPNI, 2012). Posisi tenaga keperawatan juga menjadi penting
sebagai tangan kanan dokter yang menentukan keberhasilan kerja (saran/rujukan/arahan)
sang dokter. Oleh karena itu perawat dituntut untuk memberi pelayanan dengan
mutu yang baik (Yani, 2004 dalam Hafsyah, 2008).
Instalasi Gawat Darurat merupakan
unit penting dalam operasional suatu rumah sakit, yaitu sebagai pintu masuk
bagi setiap pelayanan yang beroperasi selama 24 jam (RSUD Kota Langsa dalam
Hafsyah, 2008). Sebagai ujung tombak dalam pelayanan rumah sakit, IGD harus
melayani semua kasus yang masuk ke rumah sakit dan sesegera mungkin memberikan
pertolongan pertama pada pasien. Maka perawat IGD harus melakukan tindakan
keperawatan dengan sangat cepat dan cekatan (Oman, 2008). Perawat IGD juga
wajib membekali diri mereka dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan bahkan
mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuan perawat dalam menangani
pasien secara cepat dan tepat sesuai kasus yang masuk ke IGD. Perawat juga
dituntut untuk mampu bekerjasama dengan tim kesehatan lain serta dapat berkomunikasi
dengan pasien dan keluarga pasien yang berkaitan dengan kondisi kegawatan kasus
di ruang tersebut. Tuntutan-tuntutan dalam lingkungan kegawatdaruratan membuat
perawat IGD beresiko terhadap terjadinya stres (Rahardjho, 2007 dalam
Kurnianingsih dkk, 2013).
C.
Perawat Unit Rawat Inap
Unit Rawat Inap merupakan sebuah
unit pelayanan yang digunakan sebagai tempat untuk perawatan umum pasien
setelah pasien masuk ke rumah sakit. Pada sebuah rumah sakit berbagai macam
spesifikasi unit rawat inap tergantung management rumah sakit, ada yang terbagi
berdasarkan kelas tertentu misalnya, kelas 1, 2, 3 ataupun VIP. Selain itu
dapat dibedakan antara penyakit dalam, anak dan perawatan medis secara umum.
Unit Rawat Inap merupakan tempat untuk berinteraksi antara pasien dan
pihak-pihak yang ada di rumah sakit dan berlangsung cukup lama.Pelayanan rawat
inap melibatkan pasien, dokter dan perawat dalam hubungan yang sesitif yang
menyangkut kepuasan pasien, mutu pelayanan dan citra rumah sakit. Keberadaan
pasien yang cukup lama di unit rawat inap, membuat pasien mengeluh akan
penyakitnya pada perawat, hal ini membuat perawat mengalami kelelahan. Tidak
hanya dari sisi pasien saja yang membuat perawat mengalami kelelahan fisik,
emosi dan mental dari sisi keluarga pasien yang banyak menuntut dan rekan kerja
yang tidak sejalan. Hal ini dapat menyebabkan perawat mengalami stres
(Yulishatin 2007, dalam Mariyanti dkk, 2011).
DAFTAR PUSTAKA
Yana Dewi, (2014). Stres Kerja pada Perawat Instalasi Gawat
Darurat di RSUD Pasar Rebo Tahun 2014. Jurnal Administrasi Kebijakan
Kesehatan.
Lumintang Pascal, Kumaat Lucky, dan Mulyadi, (2015). Perbedaan tingkat stres kerja
perawat instalasi gawat darurat dan unit rawat inap di rumah Sakit pancaran
kasih gmim manado. Ejoural Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 1.
Maret 2015.
Einar B.
Thorsteinsson, Rhonda F. Brown, and Carlie
Richards, (2014) The Relationship between
Work-Stress, Psychological Stress and Staff Health And Work Outcomes in Office
Workers. Psychology, 2014, 5, 1301-1311 Published Online August 2014.