Senin, 12 Juni 2017



LITERATUR REVIEW :

PERBEDAAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN UNIT RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Literatur Review












Oleh :
SINDHY SOARA FEBRYANY
C1AA16093





PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES SUKABUMI
SUKABUMI
2017




1.      TOPIK

PERBEDAAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN UNIT RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO


2.      KATA KUNCI

 Tingkat stres kerja, Perawat Instalasi Gawat Darurat, Perawat Unit Rawat Inap.

3.      SUMBER YANG DIGUNAKAN
MEDIA ELEKTRONIK : WEBSITE DAN SUMBER JURNAL

4.      ALASAN PEMILIHAN SUMBER
a.       Sumbernya jelas.
b.      Isi jurnal relevan dengan topik.
c.       Merupakan sumber primer.
d.      Sumber yang dipakai jelas kredibilitasnya.
e.       Sesuai dengan yang dibutuhkan untuk penulisan literature review.









5.      SUMMARY JURNAL

No
Topik
Peneliti
Tahun
Metode
Populasi & Sampel
Hasil
Kesimpulan





1

PERBEDAAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN UNIT RAWAT INAP DI RUMAH
SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO

Pascal Lumintang ,
Lucky Kumaat , dan
Mulyadi

2015

Cross Sectional

Seluruh perawat di Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap.

Sampel: Perawat Instalasi Gawat Darurat : 17 perawat, Perawat Unit Rawat Inap: 73 perawat.

Hasil penelitian menunjukan 7 (41,2%) perawat Instalasi Gawat Darurat stres tingkat ringan dan 12 (70,6%) perawat Unit Rawat Inap tidak mengalami stres. Data dianalisis dengan uji Man-Whitney (α=0,05) dan diapatkan nilai Probabilitas 0,002.

Simpulan terdapat perbedaan tingkat stres kerja perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap Rumah Sakit Pancaran Kasih GMIM Manado. Rekomendasi peneliti yaitu untuk mampu mengelolah sistem kerja yang efisien sehingga mengurangi stresor yang menyebabkan perawat stres.


2

Stres Kerja pada Perawat Instalasi Gawat Darurat di RSUD Pasar Rebo Tahun 2014

Dewi Yana

2015

Cross Sectional

Populasi penelitian adalah seluruh perawat pelaksana di IGD RSUD Pasar Rebo yang berjumlah 24 orang. Sampel diambil dengan metode total sampling (24 orang).

Pada penelitian ditemukan 45,8% perawat mengalami stres yang tinggi. Perbedaan proporsi terbesar ditemukan pada faktor individu (kepercayaan diri) dan dukungan (dukungan atasan). Hasil penelitian merekomendasikan perbaikan deskripsi kerja yang lebih jelas dan akurat serta pelatihan komunikasi terkait upaya manajemen dalam mengelola stres kerja.

Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Hampir separuh dari perawat IGD RSUD Pasar Rebo memiliki stres tinggi (45,8%).
2. Pada faktor kondisi kerja, sebagian besar perawat mempersepsikan konflik dalam kelompok, konflik peran, kontrol kerja, beban kerja, dan tuntutan mental sebagai stressor. Sedangkan lingkungan fisik, konflik antar kelompok tinggi dan ketidakjelasan peran hanya dipersepsikan sebagai stressor oleh sebagian kecil perawat IGD RSUD Pasar Rebo.




3

The Relationship between Work-Stress, Psychological Stress and Staff Health and Work Outcomes in Office Workers

Einar B. Thorsteinsson, Rhonda F.Brow, Carlie Richard

2014

Questioners & Informations

Semua peserta yang sedang online.
Sampelna peserta yang potensial.

Sebuah model yang mencakup semua asosiasi signifikan diuji dengan menggunakan pendekatan persamaan struktural. Indeks yang sesuai menunjukkan kecocokan yang baik dan efek meditaStress kerja cenderung memberi kontribusi pada perasaan stres yang dirasakan tinggi pada beberapa orang Pekerja, yang kemudian memberikan kontribusi terhadap kesehatan yang buruk dan niat turnover yang lebih tinggi.

Stress kerja cenderung memberi kontribusi pada perasaan stres yang dirasakan tinggi pada beberapa orang Pekerja, yang kemudian memberikan kontribusi terhadap kesehatan yang buruk dan niat turnover yang lebih tinggi.

6.      LITERATUR REVIEW

A.             Tingkat Stres Kerja

Stres kerja banyak terjadi pada para pekerja di sektor kesehatan. Tanggung jawab terhadap manusia pada sektor kesehatan menyebabkan pekerja lebih rentan terhadap stres (Taylor, 2006)(1.3). Sebuah studi cross sectional terhadap 775 tenaga profesional di Taiwan tahun 2010 menghasilkan informasi bahwa 64,4% pekerja mengalami kegelisahan, 33,7% pekerja mengalami mimpi buruk, 44,1 mengalami gangguan iritabilitas, 40,8% pekerja mengalami sakit kepala, 35% pekerja insomnia, dan 41,4% pekerja mengalami gangguan gastrointestinal (Tsai & Lu, 2012)(6).

Borril (1998) dalam Charnley (1999)(7) menyatakan bahwa meskipun seluruh tenaga profesional di rumah sakit memiliki risiko stres, namun para perawat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat peran perawat di Indonesia yang ditegaskan pada Pasal 63 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa sesungguhnya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan. Perawat bekerja pada lingkungan di mana ia bertanggung jawab menentukan kualitas dan keamanan perawatan pasien. Apabila perawat mengalami stres kerja dan stres tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan membahayakan pasien (Jennings, 2008)(8.2).

Jika sebagian besar perawat mengalami stres kerja, maka dapat mengganggu kinerja rumah sakit karena perawat tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi rumah sakit dan pada akhirnya akan mempengaruhi daya saing mereka di pasar dan lebih dari itu bahkan dapat membahayakan kelangsungan organisasi rumah sakit (WHO, 2003)(9). Penelitian terhadap 632 perawat di Arab Saudi menunjukkan hubungan langsung yang signifikan antara tuntutan pekerjaan dengan kinerja perawat. Studi ini memperlihatkan stres kerja sebagai variabel antara dalam hubungan tuntutan pekerjaan dan kinerja para perawat (Al-Homayan, Shamsudin, Subramaniam, dan Islam, 2013)(3.2).

Penelitian yang telah dilakukan terhadap 104 perawat dengan kuesioner terhadap 96 perawat menemukan 45 peristiwa stres terjadi pada perawat. Model yang dikembangkan pada penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas subjektif menyebabkan perasaan stres, dan menyebabkan penurunan motivasi dan kinerja (Motowidlo, Packard, dan Manning, 1986)(10). Adapun studi non eksperimental di Uganda terhadap 333 perawat yang tersebar di 4 rumah sakit menunjukkan bahwa tingkat stres kerja di rumah sakit negeri cenderung lebih tinggi serta tingkat kepuasan kerja dan kinerja cenderung lebih rendah dibandingkan dengan swasta. Ada hubungan negatif yang signifikan antara stres kerja dan prestasi kerja (Nabirye, 2013)(11.1).
Stres kerja yang dialami oleh para perawat diprediksi akan cenderung terus meningkat di tahun-tahun yang akan datang. Hal tersebut merupakan sebuah tren yang tidak dapat diabaikan karena sangat erat kaitannya dengan keselamatan para perawat dan pasien (Berland, Natvig, & Gundersen, 2008; Dugan et al, 1996; Killien, 2004; Shields & Wilkins, 2006 dalam Zeller & Levin, 2013)(12). Selain ancaman keselamatan pasien, apabila ditinjau dari sisi perawat, munculnya stres dapat mengakibatkan kejenuhan dan keinginan untuk keluar dari pekerjaan. Jika stres tidak dikelola dengan baik, angka turn over terus meingkat (Jennings, 2008)(8.3). Berdasarkan sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Barker (2012)(13), diketahui bahwa stres merupakan penyebab tertinggi kedua sebagai penyebab munculnya keinginan untuk keluar dari pekerjaan.

Hasil analisis tingkat stres perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap RS Pancaran Kasih GMIM Manado. Tingkat stres yang dialami oleh perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap berbeda, yaitu perawat Instalasi Gawat Darurat mengalami stres lebih tinggi daripada perawat Unit Rawat Inap, sebagian besar perawat Instalasi Gawat Darurat mengalami stres ringan dan perawat Unit Rawat Inap sebagian besar tidak mengalami stres.

Berdasarkan uji statistik dengan menngunakan uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% (α 0,05) diperoleh ρ=0,002; α=0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan ada perbedaan tingkat stres kerja perawat Instalasi Gawat Darurat dan Unit Rawat Inap RS Pancara Kasih GMIM Manado. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nirwana dkk (2013) tentang hubungan stres kerja dengan gannguan kesehatan perawat IGD RSUD Panembahan Senopati Bantul bahwa yang mengalami stres ringan sebanyak 30 perawat (80,1%) dan yang mengalami stres tinggi sebanyak 7 orang (19,9%)faktor penyebab perawat mengalami stres adalah beban kerja, jumlah tenaga kesehatan, jumlah pasien,dan lingkungan kerja.

B.              Perawat Instalasi Gawat Darurat

Salah satu tenaga kesehatan yang jumlahnya banyak adalah perawat. Sebagai salah satu tenaga kesehatan di rumah sakit, profesi keperawatan memegang peranan penting di dalam rumah sakit dengan memberikan layanan kesehatan dalam bentuk asuhan keperawatan secara bio-sosial-kulturalspiritual secara komperhensif kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia (PPNI, 2012). Posisi tenaga keperawatan juga menjadi penting sebagai tangan kanan dokter yang menentukan keberhasilan kerja (saran/rujukan/arahan) sang dokter. Oleh karena itu perawat dituntut untuk memberi pelayanan dengan mutu yang baik (Yani, 2004 dalam Hafsyah, 2008).


Instalasi Gawat Darurat merupakan unit penting dalam operasional suatu rumah sakit, yaitu sebagai pintu masuk bagi setiap pelayanan yang beroperasi selama 24 jam (RSUD Kota Langsa dalam Hafsyah, 2008). Sebagai ujung tombak dalam pelayanan rumah sakit, IGD harus melayani semua kasus yang masuk ke rumah sakit dan sesegera mungkin memberikan pertolongan pertama pada pasien. Maka perawat IGD harus melakukan tindakan keperawatan dengan sangat cepat dan cekatan (Oman, 2008). Perawat IGD juga wajib membekali diri mereka dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan bahkan mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuan perawat dalam menangani pasien secara cepat dan tepat sesuai kasus yang masuk ke IGD. Perawat juga dituntut untuk mampu bekerjasama dengan tim kesehatan lain serta dapat berkomunikasi dengan pasien dan keluarga pasien yang berkaitan dengan kondisi kegawatan kasus di ruang tersebut. Tuntutan-tuntutan dalam lingkungan kegawatdaruratan membuat perawat IGD beresiko terhadap terjadinya stres (Rahardjho, 2007 dalam Kurnianingsih dkk, 2013).

C.    Perawat Unit Rawat Inap

Unit Rawat Inap merupakan sebuah unit pelayanan yang digunakan sebagai tempat untuk perawatan umum pasien setelah pasien masuk ke rumah sakit. Pada sebuah rumah sakit berbagai macam spesifikasi unit rawat inap tergantung management rumah sakit, ada yang terbagi berdasarkan kelas tertentu misalnya, kelas 1, 2, 3 ataupun VIP. Selain itu dapat dibedakan antara penyakit dalam, anak dan perawatan medis secara umum. Unit Rawat Inap merupakan tempat untuk berinteraksi antara pasien dan pihak-pihak yang ada di rumah sakit dan berlangsung cukup lama.Pelayanan rawat inap melibatkan pasien, dokter dan perawat dalam hubungan yang sesitif yang menyangkut kepuasan pasien, mutu pelayanan dan citra rumah sakit. Keberadaan pasien yang cukup lama di unit rawat inap, membuat pasien mengeluh akan penyakitnya pada perawat, hal ini membuat perawat mengalami kelelahan. Tidak hanya dari sisi pasien saja yang membuat perawat mengalami kelelahan fisik, emosi dan mental dari sisi keluarga pasien yang banyak menuntut dan rekan kerja yang tidak sejalan. Hal ini dapat menyebabkan perawat mengalami stres (Yulishatin 2007, dalam Mariyanti dkk, 2011).







DAFTAR PUSTAKA
Yana Dewi, (2014). Stres Kerja pada Perawat Instalasi Gawat Darurat di RSUD Pasar Rebo Tahun 2014. Jurnal Administrasi Kebijakan Kesehatan.

Lumintang Pascal, Kumaat Lucky, dan Mulyadi, (2015). Perbedaan tingkat stres kerja perawat instalasi gawat darurat dan unit rawat inap di rumah Sakit pancaran kasih gmim manado. Ejoural Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 1. Maret 2015.

Einar B. Thorsteinsson, Rhonda F. Brown, and Carlie Richards, (2014) The Relationship between Work-Stress, Psychological Stress and Staff Health And Work Outcomes in Office Workers. Psychology, 2014, 5, 1301-1311 Published Online August 2014.

LITERATUR REVIEW : PERBEDAAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DAN UNIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PANCARAN ...